Original Post: Januari 2012
Konsultasi Perdana
HALO HALO! Akhirnya setelah 2 tahun memakai produk dr.Rani Novian gue konsultasi dengan beliau.
Penanganan Jerawat
Pas Desember 2011 gue jerawatan lagi (gak separah dulu tapi cukup mengganggu) dan muka gue memerah apalagi pas abis mandi -_- Mumpung gue libur juga dan di Jakarta-Jakarta aja, gue konsultasi deh dengan beliau. Pas hari pertama, hari Senin gue dateng jam 3, udah tutup pendaftaran -_- yaudah balik lagi besoknya. Gue nunggu 4 setengah jam baru ketemu dokternya. -_- gue gak tau soalnya bisa bikin appointment via telefon jadinya gitu deh. Nah pas ketemu ya dianjurin minum Accutane atau pil KB karena selain jerawat di muka gue mengeluhkan jerawat di punggung dan dada. Gue milih Accutane karena kata dokternya kalo gue gak teratur minum pil KBnya, misalnya 3 hari gue skip gitu bisa tiba-tiba dapet. Males abis. Karena diliat bulu tangan gue lumayan tebel katanya gue boleh minum pil KB. Tapi kata dokternya pake Accutane lebih cepet. Jadi si Accutane ini bakal bikin jerawat-jerawatnya kering. Kalo pil KB lama. Jadinya gue milih Accutane deh terus disuruh tanda tangan surat pernyataan gitu kalo gue gak ada sakit liver dan gak akan menikah dalam 3 bulan ke depan. Jomblo ada manfaatnya juga ya bro. :p
Terus gue kan bilang gue udah pake apa aja krim-krim dan produk beliau apa aja. Yang diubah cuma pas yang malem ditambah Equinon 1 dan krim malem Retin A Glycore nya diupgrade dari 2:1 jadi 3:1. Gue nanya angka 1,2, sampe 5 itu artinya apa katanya itu kekuatan mengelupasnya. Katanya gue pada akhirnya harus naik tingkat terus sampe 5. Udah kayak naik kelas. Unlike dr.Titi gue gak diharusin untuk facial, cuma disuruh pake produknya aja.
Penanganan Bekas Jerawat
Soal treatment bekas jerawat, treatment yang ditawarkan oleh dr.Rani Novian adalah laser pixel. Kalo mau lihat kayak apa, ini gue post videonya. Kan gue nanya perbandingannya dengan dermaroller (dan gue juga cerita sebelumnya pas 2008-2009 gue ke dr.Titi Moertolo dan treatment bekas jerawat di kliniknya adalah dermaroller). Kata dr. Rani pixel itu lebih bagus (ya secara alami pasti beliau promosi lah ya). Orang yang hasil pixelnya cuma 2 kali dilaser dengan orang yang 12 kali didermaroller di tempat dr.Titi katanya bagusan hasil dr.Rani.
Tapi sayangnya gue belum bisa dilaser. Pertama muka gue harus clear dulu dari jerawat. Kedua dr.Rani menyuruh gue treatment pixel setelah beres kuliah (gue bilang gue kuliah di Bandung). Katanya kalo abis dilaser tuh mukanya diperban. Itu juga dilakukannya sebulan sekali. Kebayang sih bakal ribet dan susah beraktivitas apalagi gue di Bandung. Kalo ke kampus muka pake perban bakal heboh deh orang-orang dan ribet banget harus mengulang jawaban yang sama untuk pertanyaan: ‘Muka lo kenapa Mon?’. Kalo soal harga katanya sekali treatment 1juta. Gue sangat tertarik sih dan bakal mengagendakan ini begitu gue lulus. Nyesel juga kenapa pas libur naik tingkat kemaren-kemaren gak langsung konsul aja. 0_0
Abis berapa duit gue?
Untuk konsultasi gue kena 120rb ditambah biaya administrasi 10rb jadi 130rb. Abis itu buat obat gue kena 267ribuan lah kira-kira, buat beli Equinon 1 dan krim malem Retin A Glycore 3:1. Buat Accutane (belum sempet gue tebus obatnya! Obatnya gak ada di semua apotek, dr.Rani mengajukan apotek di kawasan Melawai gitu) katanya 1 strip 110ribu, kalo gak salah di resep dokternya 2 strip deh. Ya ditotal-total gue bisa abis sekitar 600ribu-an lah ya udah termasuk obat. Untuk yang kunjungan pertama dan belum pake produk sama sekali pasti kena lebih (buat beli sabun, sunblock, toner, Mediklin, syalalalala lainnya kalo ada).
Update Agustus 2013:
Treatment Pixel Laser dengan dr. Rani Novian
Oke, seperti yang gue tuliskan kurang lebih setahun yang lalu, gue sudah menjadwalkan akan pengobatan bekas jerawat di klinik dr. Rani Novian setelah lulus…dan ya, mission accomplished, kemaren gue baru saja melewati pengobatan pertama Pixel Laser. Setelah konsultasi dengan dr. Rani pada bulan puasa kemarin, gue menjadwalkan akan melakukan Pixel Laser yang akhirnya fix terjadwal setelah Lebaran. Saran dokter sebelum treatment adalah minum RoAccutane dan lanjutkan pemakaian krim-krim dari beliau.

Pre-Treatment: Pengolesan Salep
Sesuai janji, gue tiba di klinik dr. Rani pukul 14, mengambil nomor antrian, dan memberitahu resepsionis kalau gue hari itu dijadwalkan ikut Pixel. (Gue sudah menelfon kira-kira 5 hari sebelumnya untuk memastikan appointment treatment gue, antisipasi ke-skip, maklumlah transisi libur panjang ke hari kerja normal). Setelah menunggu giliran (rame banget!!) akhirnya gue dipanggil masuk ke ruang facial yang di lantai 2 dan disuruh tiduran. Muka gue dibersihin dan diolesin krim (yang pedih! untung boleh sambil denger musik di headset jadi nggak gitu berasa) dan diperban. Kata susternya harus 2 jam, jadi selesai diperban, gue disuruh nunggu di luar selama 2 jam. Oh iya pas sejam sebelum treatment, suster yang ngerjain gue, Suster Betty memberikan obat minum buat nahan sakit. Gue disuruh makan dan minum itu jadi oke, gue turutin.
Pixel Laser: BEAUTY IS PAIN!!
Oke setelah 2 jam………..saatnya eksekusi. Ruang treatmentnya di lantai 1, deket toilet. Jreng, pas dibuka…kayak ruang operasi Grey’s Anatomy, well a less surgery-ish type. Tau kan kalo nonton film dan tokoh utamanya kecelakaan dan pas buka mata banyak lampu-lampu di atas kepalanya. Yeah, kurang lebih kayak begitu.

What to expect (and trust me gue gak lebay): it is so painful. So painful, sampe gue nangis dan….ketawa-ketawa. Hahahaha.
Gue tiduran. Lampu dinyalain (dan super silau) dan gue tutup mata. Suster Betty dan dr. Yeyen sudah siap dengan senjata. The pain was excruciatingly horrific. Facial kan kadang sakit banget yah pas bagian dipencet-pencetnya. Well imagine that pain..dikalikan 100. Well, untung nyokap gue nemenin dan beliau bersedia memberikan tangannya untuk gue remas buat nahan sakit (sampe merah-merah, sorry Mama). Well good thing juga nyokap gue dan Suster Betty berkali-kali mengingatkan ‘Beauty is pain’ dan ‘No pain no gain’ dan gue juga dibebaskan untuk berteriak-teriak selama treatment (I wonder what the other patients were thinking when they heard me scream). Muke gue dilaser di 3 area: dahi, pipi kiri, dan pipi kanan. Dan setiap sebelum melaser area itu, difoto sama Suster Betty, ya untuk dokumentasi before after kali yah.
The torture…oops, I mean, the treatment berlangsung kurang lebih 40 menit lah ya. Gue ditangani dr. Yeyen, dokter di klinik dr. Rani Novian yang kulitnya super duper bagus. You know how people have really ‘poreless’ skin tapi kering? Her skin has a really healthy glow to it, bukan glow yang minyakan but a real healthy glow. The type of skin you might envy. Well, setelah treatment itu, gue naik ke ruang laser di lantai 2 untuk di laser lagi, tapi kali ini bukan pixel, tapi kata Suster Betty buat memancing pertumbuhan sel kulit baru (kan abis dilukain tuh), dan yang ini super selow dan nggak berasa apa-apa, itu selama 30 menit x 2 area (kiri dan kanan) yang ditotal selama 1 jam.
Pasca-Treatment: Maintenance di Rumah
Oke, jadi tadinya gue kira setelah Laser mukanya diperban dan baru dibuka lagi 4 hari kemudian di klinik. Ternyata salah besar. adi gue baru akan kembali ke dr.Yeyen untuk konsultasi 3 hari setelah treatment. Sampai jumpa lagi, gue bertanggung jawab mengompres muka gue dengan larutan NaCl selama 60 menit, mengoles salep luka, dan mengganti perban. Semua itu dilakukan pagi dan malam, 2 kali sehari. Nanti pas kembali ke klinik, muka gue masih dalam kondisi diperban, dan perbannya akan dibukakan oleh Suster Betty sebelum berjumpa dengan dr.Yeyen. Suster Betty mengajari gue cara mengganti perban sendiri di rumah dan reapplying salep luka. Rada rempong sih, tapi well no pain no gain lah ya. Oiya perbannya jangan bayangin kayak mumi yah yang diperban satu kepala dan dibolongin di mata dan mulut, tapi perbannya namanya Melolin (kapas yang satu sisinya kapas biasa, sisi lainnya material licin seperti plastik, yang ditempel pada luka). Melolin ini digunting mengikuti area yang dilaser dan ditempel pake lakban tipikal kotak P3K yang merek 3M. Rule of thumb 3 days post treatment: no sun, no water. So basically..be a vampire for 3 days. Mengurung diri di rumah dan gak boleh kena air. Mandi jangan pake shower, tapi back to basics pake ember sama gayung. Selain itu gue dikasih antibiotik untuk diminum sekali sehari untuk mencegah infeksi.
Bagaimana hasilnya? Harus berapa kali treatment?
Seberapa signifikankah sekali treatment? Apakah cukup sekali? Apakah harus beberapa kali? Well, gue sudah menanyakan ini, dan mereka belum bisa memastikan. Hal itu baru bisa ditentukan pas konsultasi H+3 dipixel, pas konsultasi dengan dokter. Dari pengalaman pasien sebelumnya sih, ada yang sekali Pixel sudah bagus, tapi ada yang 2-3 kali. It all depends on the depth of the scar and the type of the scar. Well, I’m praying for the best sih. Kalau sekali udah bagus ya Alhamdulillah banget ya, tapi kalau memang harus sekali lagi…..bring it on. 🙂
Stay updated! I’ll keep posting. 🙂







Leave a reply to puti Cancel reply